2017, Tahun Yang Berat Untuk Para Pecinta Sepakbola Dunia

103
2017, Tahun Yang Berat Untuk Para Pecinta Sepakbola Dunia
2017, Tahun Yang Berat Untuk Para Pecinta Sepakbola Dunia

Jakarta, SportNusa – Tahun 2017 banyak yang kejadian di sepakbola dunia, namun pensiunnya para legenda membuat kita para pecinta sepakbola merasa sedih. Mulai dari Philipp Lahm hingga Ricardo Kaka, satu per satu meninggalkan panggung sepakbola dunia. Mereka tidak hanya meninggalkan panggung tersebut, tapi telah meninggalkan sederet prestasi yang membuat kita mampu mengenang mereka.

Sangat miris, di tengah banyaknya wonderkid bermunculan dalam beberapa tahun terakhir, para pesepakbola yang sudah berumur mulai sadar diri. Munculnya nama-nama seperti Neymar, Lukaku, Jordi Alba hingga kiper fenomenal seperti Gianluigi Donnarumma membuat nama-nama veteran memutuskan untuk pensiun dari sepakbola profesional.

2017 sebentar lagi akan berakhir, para pemain yang pensiun yang paling kita kenal tentunya para legenda sepakbola. Mereka kita sebut legenda karena prestasi bahkan menjadi ikonik untuk klub-klub yang mereka bela. Ada yang berpindah-pindah tim namun tetap menjadi ikon klub, namun ada juga yang benar-benar membela satu klub sepanjang karirnya.

SportNusa akan membahas mereka satu per satu. Meski sudah mengetahui siapa saja yang pensiun pada tahun ini, sudah seharusnya kita mengenang mereka. Kepiawaian dan kecerdasan mereka dalam mengalirkan bola di atas lapangan telah menghibur kita selama bertahun-tahun. Terima kasih Legend!

1. Philipp Lahm

Philipp Lahm

Philipp Lahm kita kenal sebagai kapten untuk Bayern Munchen selama karir bermainnya. Lahm merupakan salah satu pemain yang cukup cerdas dan juga rajin terlibat dalam beberapa acara amal selama ini.

Lahm memulai karir junior dengan bergabung ke Bayern Munchen pada saat usianya masih 11 tahun. Pada 2002 silam, dia memainkan debut di tim senior Bayern Munchen sebagai pemain pengganti pada menit ke-92. Namun, ternyata Lahm sempat dipinjamkan ke VfB Stuttgart pada musim 2003-04.

Pada Juli 2005, Lahm kembali ke Bayern Munchen dan secara mengejutkan mampu tampil 23 kali di semua kompetisi Bayern musim tersebut. Selama membela Bayern, Lahm mampu mempersembahkan 8 trofi Bundesliga, 6 trofi DFB-Pokal dan 1 trofi Liga Champions.

2. Xabi Alonso

Xabi Alonso

Xabi Alonso, sejauh ini dirinya merupakan salah satu gelandang bertahan terbaik di dunia. Dia mengawali karirnya bersama Real Sociedad sebelum hijrah ke Liga Inggris dan mampu menjadi ikon untuk Liverpool. Puas di Liverpool, Xabi Alonso sempat mampir di Real Madrid beberapa musim dan terakhir dia membela Bayern Munchen.

Xabi Alonso cukup melekat di hati para fans Liverpool dengan mempersembahkan satu trofi Liga Champions musim 2004-05. Jenderal lini tengah yang juga dikenal karena kebijaksanaannya di atas lapangan tersebut, juga bermain selama 5 tahun untuk klub kota Merseyside.

Pada musim panas 2009, Xabi Alonso memutuskan untuk pindah ke Real Madrid dan ternyata dia mampu tampil memukau di negara kelahirannya. Dia mampu mempersembahkan trofi Liga Champions pada musim 2013-14 dan juga sebelumnya, trofi La Liga musim 2011-12. Usai menjuarai Liga Champions, Xabi kembali pindah klub ke Bayern Munchen mengikuti Pep Guardiola.

Di Jerman, Xabi Alonso yang sudah berusia 30an tetap mampu tampil konsisten setiap musimnya. Selama 3 musim di Bayern Munchen, dia mampu menyumbang 3 trofi Bundesliga namun sayang, koleksi trofi Liga Champions tak berhasil dia dapatkan di Jerman.

3. Francesco Totti

Francesco Totti

Siapa yang tidak kenal pesepakbola yang cukup ‘nyentrik’ asal Italia yang kita kenal dengan keberingasannya dan sikap temperamennya di atas lapangan. Francesco Totti, atau lebih akrab disapa Totti, cukup lama bermain sebagai striker dan juga gelandang serang.

Sejak kecil dia sudah bergabung bersama tim akademik Roma, dengan rumor yang mengatakan bahwa keluarganya sempat mendapatkan undangan dari AC Milan. Namun kecintaannya kepada Roma memang sudah ada sejak kecil dan membuatnya memilih klub ibukota Italia itu.

Cukup menyedihkan, dikenang sebagai legenda sepakbola Italia karena kejeniusannya mengutak-atik bola, Totti hanya mampu memberikan satu trofi Serie A untuk Roma. Keputusan pensiun sang Il Capitano di akhir musim, mampu membuat seluruh pecinta sepakbola di seluruh dunia merasa kehilangan.

Meski hanya memberikan satu trofi Liga Italia untuk klubnya, Totti dikenal sebagai pesepakbola yang setia karena hanya membela Roma selama karirnya. Sangat jarang ada pemain seperti ini di era sepakbola zaman sekarang.

4. Andrea Pirlo

Andrea Pirlo

Sang Maestro harus pensiun. Mungkin begitu kira-kira yang ada dalam benak para pecinta sepakbola di seluruh pelosok dunia. Kekurangannya dalam aspek kecepatan, fisik dan juga bertahan, mampu ditutupi oleh Pirlo dengan teknik, kontrol, drible dan akurasi tendangan serta umpannya setiap kali bermain.

Pirlo juga sering disebut-sebut sebagai Sang Arsitek oleh rekan-rekan setimnya karena mampu menciptakan sebuah momen yang berujung dengan gol. Entah dari permainan langsung atau dari bola-bola mati seperti tendangan bebas dan tendangan sudut. Itu semua karena akurasi umpan yang dimiliki oleh kedua kakinya.

Mantan pesepakbola yang juga merupakan seorang pengusaha anggur di Italia itu ternyata sudah mencicipi berbagai klub besar di dunia. Seperti Inter Milan, Milan, Juventus hingga ke Liga Amerika Serikat, MLS. Berbagai gelar bergengsi pun mampu diberikan Pirlo untuk klub-klub yang dia bela.

Saat di Milan, dia mampu memberikan 2 trofi Liga Champions, dua trofi Serie A. Sementara di Juventus, dia mampu memberikan 4 trofi Serie A, namun sayang Liga Champions tak dapat dimenangkan selama di Turin. Berbagai gelar individu juga cukup banyak dia menangkan dan membuatnya harus dikenang oleh para pecinta sepakbola.

5. Ricardo Kaka

Ricardo Kaka

Ricardo Izecson dos Santos Leite biasa dikenal dengan sebutan Kaka, piawai saat dimainkan di posisi gelandang serang atau second striker. Dia mengawali karirnya di Sao Paulo FC saat usianya masih berusia 7 tahun. Dia mengawali karir senior di Sao Paulo pada tahun 2001 silam dan mampu mencuri perhatian klub-klub Eropa sejak saat itu.

Hanya dua tahun di Sao Paulo, Kaka pun menerima pinangan AC Milan pada tahun 2003 silam. Bermain selama 6 tahun di Milan, dia mampu memberikan trofi Serie A musim 2003/04 dan satu trofi Liga Champions musim 2006/07.

Selama 6 tahun di Milan, Kaka mencari petualangan baru dan bergabung bersama Real Madrid dengan nilai transfer yang cukup besar. Bergabung sejak 2009 silam, Kaka hanya mampu memberi satu trofi La Liga musim 2011-12 silam. Namun karirnya di Madrid cukup meredup dan membuatnya harus pergi demi kelangsungan karirnya.

Dia memutuskan untuk kembali ke Milan namun hanya satu musim, pada musim 2013-14. Menyadari dirinya sudah tidak seperti dulu, Kaka pun pindah ke Amerika Serikat dan bergabung bersama Orlando City. Di sana, Kaka mampu kembali tampil gemilang dan dianggap ikon klub oleh para fans Orlando. Orlando City pula yang menjadi klub terakhir Kaka dalam karir profesional. Beruntungnya fans Orlando mampu menyaksikan penampilan seorang Kaka secara langsung.

Jangan sampai ketinggalan informasi sepakbola lainnya!